· Matriks
· Relasi
Representasi
Relasi
1. Representasi Relasi dengan Diagram Panah
2. Representasi Relasi dengan Tabel
3. Representasi Relasi dengan Matriks
4. Representasi Relasi dengan Graf Berarah
· Sifat-sifat
Relasi Biner
1. Refleksif (reflexive)
2. Menghantar (transitive)
3. Setangkup (symmetric)
dan tak-setangkup (antisymmetric)
4. Relasi
Inversi
5. Mengkombinasikan
Relasi
6. Komposisi
Relasi
7. Relasi n-ary
7.1. Seleksi
7.2. Proyeksi
7.3. Join.
Matriks
·
Matriks adalah adalah susunan skalar elemen-elemen dalam bentuk baris
dan kolom.
·
Matriks A yang berukuran dari m baris dan n kolom
(m ´ n) adalah:
·
Matriks bujursangkar adalah matriks yang berukuran n ´ n.
·
Dalam praktek, kita lazim menuliskan matriks dengan notasi ringkas A
= [aij].
Contoh 1. Di bawah ini adalah matriks
yang berukuran 3 ´ 4:
·
Matriks simetri adalah matriks yang aij = aji
untuk setiap i dan j.
Contoh 2. Di bawah ini adalah contoh
matriks simetri.
· Matriks zero-one
(0/1) adalah matriks yang setiap elemennya hanya bernilai 0 atau 1.
Contoh 3. Di bawah ini adalah contoh matriks 0/1:
Relasi
·
Relasi biner R antara
himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A
´ B.
·
Notasi: R Í (A
´ B).
·
a R b adalah notasi untuk (a, b)
Î R,
yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R
·
a R b adalah notasi
untuk (a, b) Ï R, yang artinya a tidak
dihubungkan oleh b oleh relasi R.
·
Himpunan A disebut daerah
asal (domain) dari R, dan himpunan B disebut daerah hasil (range)
dari R.
Contoh 3. Misalkan
A =
{Amir, Budi, Cecep}, B = {IF221, IF251, IF342, IF323}
A ´ B
= {(Amir, IF221), (Amir, IF251), (Amir, IF342),
(Amir,
IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251),
(Budi,
IF342), (Budi, IF323), (Cecep, IF221),
(Cecep,
IF251), (Cecep, IF342), (Cecep, IF323) }
Misalkan R
adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada
Semester Ganjil, yaitu
R =
{(Amir, IF251), (Amir, IF323), (Budi, IF221),
(Budi, IF251), (Cecep, IF323) }
- Dapat dilihat bahwa R Í (A ´ B),
- A adalah daerah asal R, dan B adalah daerah
hasil R.
- (Amir, IF251) Î R atau Amir R
IF251
- (Amir, IF342) Ï R atau Amir R IF342.
Contoh 4. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan(p, q)
Î R jika p
habis membagi q
maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 9), (3, 15),
(4, 4), (4, 8), }.
•
Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus
•
Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A
´ A.
•
Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A ´ A.
Contoh 5. Misalkan R
adalah relasi pada A = {2, 3, 4, 8,
9} yang didefinisikan oleh (x, y) Î R jika x
adalah faktor prima dari y. Maka
R = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 3), (3,
9)}
Representasi Relasi
2.
Representasi Relasi dengan Tabel
· Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal, sedangkan
kolom kedua menyatakan daerah hasil.
· Misalkan R
adalah relasi dari A = {a1, a2, …, am}
dan B = {b1, b2,
…, bn}.
· Relasi R
dapat disajikan dengan matriks M = [mij],
b1 b2 ¼ bn
Contoh 6. Relasi R
pada Contoh 3 dapat dinyatakan dengan matriks
dalam hal ini, a1
= Amir, a2 = Budi, a3 = Cecep, dan b1 = IF221,
b2 = IF251, b3 = IF342, dan b4 = IF323.
Relasi R pada Contoh 4 dapat
dinyatakan dengan matriks
yang dalam hal ini, a1 = 2, a2 = 3, a3
= 4, dan b1 = 2, b2 = 4, b3 = 8, b4
= 9, b5 = 15.
4. Representasi Relasi dengan Graf Berarah
· Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan
secara grafis dengan graf berarah (directed graph atau digraph)
· Graf berarah tidak didefinisikan untuk
merepresentasikan relasi dari suatu himpunan ke himpunan lain.
· Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik
(disebut juga simpul atau vertex),
dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc)
· Jika (a, b) Î R, maka
sebuah busur dibuat dari simpul a ke
simpul b. Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal
vertex).
· Pasangan terurut (a,
a) dinyatakan dengan busur dari
simpul a ke simpul a sendiri. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop).
Contoh 7. Misalkan R
= {(a, a), (a, b), (b,
a), (b, c), (b, d),
(c, a), (c, d), (d, b)}
adalah relasi pada himpunan {a, b, c,
d}.
Sifat-sifat Relasi Biner
· Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan
mempunyai beberapa sifat.
1. Refleksif (reflexive)
· Relasi R
pada himpunan A disebut refleksif jika (a, a) Î R untuk
setiap a Î A.
· Relasi R pada himpunan A tidak refleksif
jika ada a Î A sedemikian sehingga (a,
a) Ï R.
Contoh 8. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 1), (2, 2), (3,
3), (4, 2), (4, 3),
(4, 4) } bersifat refleksif karena terdapat elemen
relasi yang berbentuk (a, a), yaitu (1, 1), (2, 2), (3, 3), dan
(4, 4).
(b) Relasi R =
{(1, 1), (2, 2), (2, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4) } tidak bersifat refleksif karena (3, 3) Ï R.
Contoh 9. Relasi “habis
membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat refleksif karena setiap
bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya sendiri, sehingga (a, a)ÎR untuk setiap a
Î A.
Contoh 10. Tiga buah relasi
di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N.
R : x lebih besar dari y,
S : x + y =
5, T : 3x + y
= 10
Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena,
misalkan (2, 2) bukan anggota R, S, maupun T.
· Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang
elemen diagonal utamanya semua bernilai 1, atau mii = 1, untuk i
= 1, 2, …, n,
· Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif
dicirikan adanya gelang pada setiap simpulnya.
2.
Menghantar (transitive)
· Relasi R
pada himpunan A disebut menghantar jika (a, b) Î R dan (b, c)
Î R, maka (a, c) Î R, untuk a, b,
c Î A.
· Relasi R
pada himpunan A disebut menghantar jika tidak ada (a, b)
Î R dan (b, c) Î R,
sedemikian hingga (a, c) Î R, untuk a, b,
c Î A.
Contoh 11. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan
pada himpunan A, maka
(a) R =
{(2, 1), (3, 1), (3, 2), (4, 1), (4, 2), (4, 3) } bersifat menghantar.
Lihat tabel
berikut:
Pasangan berbentuk
(a, b) (b, c) (a, c)
(3,
2)
(2, 1) (3, 1)
(4,
2)
(2, 1) (4, 1)
(4,
3)
(3, 1) (4, 1)
(4,
3)
(3, 2) (4, 2)
(a) R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak manghantar
karena
(2, 4) dan (4, 2) Î R, tetapi (2, 2) Ï R, begitu juga (4, 2)
dan (2, 3) Î R, tetapi (4, 3) Ï R.
(b) Relasi R =
{(1, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 4) } jelas menghantar
(c) Relasi R =
{(1, 2), (3, 4)} menghantar karena tidak ada
(a,
b) Î R dan (b, c)
Î R sedemikian sehingga (a, c) Î R.
Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4, 5)} selalu menghantar.
Contoh 12. Relasi “habis
membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat menghantar. Misalkan
bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c. Maka
terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma
dan c = nb. Di sini c = nma,
sehingga a habis membagi c.
Jadi, relasi “habis membagi” bersifat menghantar.
Contoh 13. Tiga buah relasi
di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N.
R : x lebih besar dari y,
S : x + y =
6, T : 3x + y
= 10
- R adalah relasi menghantar karena jika x > y
dan y > z maka x > z.
- S tidak menghantar karena, misalkan (4, 2) dan (2, 4)
adalah anggota S tetapi (4, 4) Ï S.
- T = {(1, 7), (2, 4), (3, 1)} menghantar.
· Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri
khusus pada matriks representasinya
· Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh:
jika ada busur dari a ke b dan dari b ke c,
maka juga terdapat busur berarah dari a
ke c.
· Relasi R
pada himpunan A disebut setangkup jika (a, b) Î R, maka (b, a)
Î R untuk a, b Î A.
· Relasi R pada himpunan A tidak setangkup
jika (a, b) Î R sedemikian sehingga (b,
a) Ï R.
· Relasi R pada
himpunan A sedemikian sehingga (a,
b) Î R dan (b,
a) Î R hanya jika a = b untuk a, b
Î A disebut tolak-setangkup.
· Relasi R pada himpunan A tidak
tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b sedemikian
sehingga (a, b) Î R dan (b, a) Î R.
Contoh 14. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R =
{(1, 1), (1, 2), (2, 1), (2, 2), (2, 4), (4, 2), (4, 4) } bersifat setangkup
karena jika (a, b) Î R maka (b,
a) juga Î R. Di sini
(1, 2) dan (2, 1) Î R, begitu juga (2, 4) dan
(4, 2) Î R.
(b) Relasi R =
{(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak setangkup karena (2, 3) Î R, tetapi (3, 2) Ï R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3) }
tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1, 1) Î R, 2 = 2 dan (2, 2) Î R, dan 3 = 3 dan (3, 3) Î R. Perhatikan bahwa R juga setangkup.
(d) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (2, 3) }
tolak-setangkup karena (1, 1) Î R dan 1 = 1 dan, (2, 2) Î R dan 2 = 2 dan. Perhatikan bahwa R
tidak setangkup.
(e) Relasi R =
{(1, 1), (2, 4), (3, 3), (4, 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ¹ 4 tetapi (2, 4) dan (4, 2) anggota R. Relasi R
pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolak-setangkup.
(f) Relasi R = {(1, 2), (2, 3), (1, 3) } tidak
setangkup.
Relasi
R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (4, 2), (4, 4)} tidak setangkup dan
tidak tolak-setangkup. R tidak setangkup karena (4, 2) Î R tetapi (2, 4) Ï R. R tidak tolak-setangkup karena (2,
3) Î R dan (3, 2) Î R tetap 2 ¹ 3.
Contoh 15. Relasi “habis
membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak setangkup karena jika a habis membagi b, b tidak habis membagi a, kecuali jika a = b. Sebagai contoh, 2
habis membagi 4, tetapi 4 tidak habis membagi 2. Karena itu, (2, 4) Î R tetapi
(4, 2) Ï R. Relasi “habis membagi” tolak-setangkup karena jika a
habis membagi b dan b habis membagi a maka a = b.
Sebagai contoh, 4 habis membagi 4. Karena itu, (4, 4) Î R dan 4 =
4.
Contoh 16. Tiga buah relasi
di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N.
R : x lebih besar dari y,
S : x + y =
6, T : 3x + y
= 10
- R bukan relasi setangkup karena, misalkan 5 lebih besar
dari 3 tetapi 3 tidak lebih besar dari 5.
- S relasi setangkup karena (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S.
- T tidak setangkup
karena, misalkan (3, 1) adalah anggota T tetapi (1, 3) bukan anggota T.
- S bukan relasi tolak-setangkup karena,
misalkan (4, 2) Î S dan (4, 2) Î S tetapi 4 ¹ 2.
- Relasi R dan T
keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!).
·
Relasi yang
bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah diagonal utama
merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama, atau mij = mji = 1, untuk i
= 1, 2, …, n :
·
Sedangkan graf
berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada busur dari
a ke b, maka juga ada busur dari b
ke a
·
Matriks dari
relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika mij = 1
dengan i ¹ j, maka mji = 0. Dengan kata lain, matriks
dari relasi tolak-setangkup adalah jika salah satu dari mij =
0 atau mji = 0 bila i ¹ j :
· Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat
tolak-setangkup dicirikan oleh: jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur
dalam arah berlawanan antara dua simpul berbeda.
4. Relasi
Inversi à
·
Misalkan R adalah relasi dari himpunan
A ke himpunan B. Invers dari relasi R, dilambangkan dengan
R–1, adalah relasi dari B ke A yang
didefinisikan oleh
R–1 = {(b,
a) | (a, b) Î R }
Contoh 17. Misalkan P
= {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}.
Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q
dengan
(p, q) Î R jika p
habis membagi q
maka kita peroleh
R
= {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 9), (3, 15), (4, 4), (4, 8) }
R–1 adalah invers dari
relasi R, yaitu relasi dari Q ke P dengan
(q, p) Î R–1 jika q adalah kelipatan dari p
maka kita peroleh
Jika M adalah matriks yang
merepresentasikan relasi R,
maka matriks yang merepresentasikan relasi R–1, misalkan N, diperoleh
dengan melakukan transpose terhadap matriks M,
5. Mengkombinasikan
Relasi
·
Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut, maka operasi
himpunan seperti irisan, gabungan, selisih, dan beda setangkup antara dua
relasi atau lebih juga berlaku.
·
Jika R1 dan R2 masing-masing adalah
relasi dari himpuna A ke himpunan B, maka R1 Ç R2, R1
È R2,
R1 – R2, dan R1
Å R2
[A Å B = (A È B) – (A Ç B) = (A – B) È (B – A)] juga adalah relasi
dari A ke B.
Contoh 18. Misalkan A = {a,
b, c} dan B = {a, b,
c, d}.
Relasi R1 = {(a, a), (b,
b), (c, c)}
Relasi R2 = {(a, a), (a,
b), (a, c), (a, d)}
R1 Ç R2
= {(a, a)}
R1 È R2
= {(a, a), (b, b), (c,
c), (a, b), (a, c),
(a, d)}
R1 - R2 = {(b, b), (c, c)}
R2 - R1
= {(a, b), (a, c), (a,
d)}
R1 Å R2
= {(b, b), (c, c), (a,
b), (a, c), (a, d)}
·
Jika relasi R1 dan
R2 masing-masing
dinyatakan dengan matriks MR1
dan MR2, maka
matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah
MR1 È R2 = MR1 Ú MR2 dan MR1 Ç R2 = MR1 Ù MR2
Contoh 19. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A
dinyatakan oleh matriks
maka
6. Komposisi
Relasi
·
Misalkan R adalah relasi dari
himpunan A ke himpunan B, dan S adalah relasi dari himpunan B
ke himpunan C. Komposisi R dan S, dinotasikan dengan S o R,
adalah relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh
S o R = {(a, c) ½ a Î A, c Î C,
dan untuk beberapa b Î B,
(a, b) Î R dan (b,
c) Î S }.
Contoh 20. Misalkan
R = {(1, 2), (1, 6), (2, 4), (3, 4), (3, 6), (3, 8)}
adalah relasi dari himpunan
{1, 2, 3} ke himpunan {2, 4, 6, 8} dan
S = {(2, u),
(4, s), (4, t), (6, t), (8, u)}
adalah relasi dari himpunan
{2, 4, 6, 8} ke himpunan {s, t, u}.
Maka komposisi relasi R dan S adalah
S o R
= {(1, u), (1, t), (2, s), (2, t), (3, s), (3, t), (3, u) } .
Komposisi relasi R dan S lebih
jelas jika diperagakan dengan diagram panah:
·
Jika relasi R1 dan
R2 masing-masing
dinyatakan dengan matriks MR1
dan MR2, maka
matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah
MR2 o R1 = MR1 × MR2
yang dalam hal ini operator
“.” sama seperti pada perkalian matriks biasa, tetapi dengan mengganti tanda
kali dengan “Ù” dan tanda tambah dengan “Ú”.
Contoh 21. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A
dinyatakan oleh matriks
maka matriks yang menyatakan R2 o R1
adalah
MR2 o R1 = MR1
. MR2
Contoh 21. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A
dinyatakan oleh matriks
maka matriks yang menyatakan R2 o R1
adalah
MR2 o R1 = MR1
. MR2=
7. Relasi n-ary
·
Relasi biner hanya menghubungkan antara dua buah himpunan.
·
Relasi yang lebih umum menghubungkan lebih dari dua buah himpunan.
Relasi tersebut dinamakan relasi n-ary (baca: ener).
· Jika n = 2, maka relasinya
dinamakan relasi biner (bi = 2). Relasi n-ary mempunyai terapan penting di dalam
basisdata.
· Misalkan A1, A2, …, An adalah himpunan. Relasi n-ary R pada himpunan-himpunan tersebut adalah
himpunan bagian dari A1 ´ A2
´ … ´ An , atau dengan notasi R Í A1 ´ A2 ´ … ´ An.
Himpunan A1, A2, …, An disebut daerah asal relasi dan n disebut derajat.
Contoh 22. Misalkan
NIM = {13598011, 13598014,
13598015, 13598019,
13598021, 13598025}
Nama = {Amir, Santi, Irwan,
Ahmad, Cecep, Hamdan}
MatKul = {Logika Informatika,
Algoritma, Struktur Data,
Arsitektur Komputer}
Nilai = {A, B, C, D, E}
Relasi MHS
terdiri dari 4-tupel (NIM, Nama,
MatKul, Nilai):
MHS
Í NIM ´ Nama ´ MatKul ´ Nilai.
Satu contoh relasi yang bernama MHS
adalah
MHS = { (13598011, Amir, Logika Informatika, A),
(13598011, Amir, Arsitektur Komputer, B),
(13598014, Santi, Arsitektur
Komputer, D),
(13598015, Irwan, Algoritma, C),
(13598015, Irwan, Struktur Data C),
(13598015, Irwan, Arsitektur Komputer, B),
(13598019, Ahmad, Algoritma, E),
(13598021, Cecep, Algoritma, A),
(13598021, Cecep, Arsitektur
Komputer, B),
(13598025, Hamdan, Logika Informatika, B),
(13598025, Hamdan, Algoritma, A,
B),
(13598025, Hamdan, Struktur Data,
C),
(13598025, Hamdan, Ars. Komputer,
B) }
Relasi
MHS di atas juga dapat ditulis dalam bentuk Tabel:
·
Basisdata (database) adalah
kumpulan tabel.
·
Salah satu model basisdata adalah model
basisdata relasional (relational database). Model basisdata
ini didasarkan pada konsep relasi n-ary.
· Pada basisdata relasional, satu tabel menyatakan satu relasi. Setiap kolom pada tabel disebut atribut. Daerah asal dari
atribut adalah himpunan tempat semua anggota atribut tersebut berada.
· Setiap tabel pada basisdata diimplementasikan secara fisik sebagai
sebuah file.
· Satu baris data pada tabel menyatakan sebuah record, dan setiap
atribut menyatakan sebuah field.
· Secara fisik basisdata adalah kumpulan file, sedangkan file
adalah kumpulan record, setiap record terdiri atas sejumlah field.
· Atribut khusus pada tabel yang mengidentifikasikan secara unik elemen
relasi disebut kunci (key).
·
Operasi yang dilakukan terhadap basisdata dilakukan dengan perintah
pertanyaan yang disebut query.
·
Contoh query:
“tampilkan semua mahasiswa
yang mengambil mata kuliah
Matematika Diskrit”
“tampilkan
daftar nilai mahasiswa dengan NIM = 13598015”
“tampilkan
daftar mahasiswa yang terdiri atas NIM dan mata
kuliah yang diambil”
· Query terhadap basisdata
relasional dapat dinyatakan secara abstrak dengan operasi pada relasi n-ary.
· Ada beberapa operasi yang dapat
digunakan, diantaranya adalah seleksi, proyeksi, dan join.
7.1. Seleksi
Operasi seleksi memilih
baris tertentu dari suatu tabel yang memenuhi persyaratan tertentu.
Operator: s
Contoh 23. Misalkan untuk relasi MHS
kita ingin menampilkan daftar mahasiswa yang mengambil mata kuliah Logika
Informatrika. Operasi seleksinya adalah
sMatkul=”Logika Informatika” (MHS)
Hasil: (13598011, Amir, Logika Informatika, A)
dan
(13598025, Hamdan,Logika
Informatika, B)
7.2. Proyeksi
Operasi proyeksi memilih
kolom tertentu dari suatu tabel. Jika ada beberapa baris yang sama nilainya,
maka hanya diambil satu kali.
Operator: p
Contoh 24. Operasi proyeksi
pNama, MatKul, Nilai (MHS)
menghasilkan Tabel 3.5. Sedangkan operasi
proyeksi
pNIM, Nama (MHS)
menghasilkan
Tabel 3.6.
7.3. Join
Operasi join menggabungkan dua buah tabel menjadi satu bila kedua tabel
mempunyai atribut yang sama.
Operator: t
Contoh 25. Misalkan relasi MHS1 dinyatakan dengan
Tabel 3.7 dan relasi MHS2
dinyatakan dengan Tabel 3.8.
Operasi join
tNIM, Nama(MHS1, MHS2)
ARTIKEL TERKAIT PERLU DIBACA...!/LE'E MOS ARTIKEL NE'E:




























Tidak ada komentar:
Posting Komentar